Better Offering to move

it_is_better_to_offer_no_excuse_than_a_bad_one_sticker-rbdeb4b02c49245c381c482aa812a4b00_v9waf_8byvr_512Lagi-lagi per hari ini, salah seorang teman saya mengajak saya berdiskusi panjang lebar mengenai rencana dia untuk pindah ke perusahaan lain yg memberikan penawaran lebih baik (menurut dia) dibanding perusahaan tempat dia bekerja sekarang. menurut saya, temen saya ini masuk kategori top talent – berbakat, memiliki otak cemerlang, semangat kerja, energi berlimpah dengan prestasi dimana-mana. kenapa dia mau pindah ya ? lalu saya tanyakan kepada dia, apa sih yg dimaksud dengan ‘penawaran lebih baik’ ? ujung2nya sih dia sampaikan kepada saya, ‘ dapet gaji jauhhh lebih tinggi, May. lagian perusahaan saya sekarang sedang change management, semua direksinya ganti, saya jadi ga  betah’. hm yah well, diawal karir saya, awal saya join IBM bahkan saya kemudian bergabung di Microsoft dua tahun lalu, saya juga selalu berpikir ‘better offering means much much much higher salary’. seiring dengan perjalanan karir saya, baru saya merasakan’ higher salary mean higher responsibility’, gaji atau penawaran dalam bentuk materi tidak melulu menjadi pertimbangan utama saya. saya telaah lebih detil teman saya ini akan pindah kemana ? ternyata kesalah satu perusahaan yg sedang mengalami permasalahan, ya permasalahan manajemen ya permasalahan business ditandai dengan merosotnya penjualan selama dua tahun terakhir.

well, ‘better offering’ (what ever it is is one thing) tapi kalau sampai dapat offering dari perusahaan yg sedang bermasalah, lebih baik dipikir dua kali. yaiya dong mereka berani bayar mahal untuk kaliber temen saya yg satu ini. my advice is, pls ask your self, is it money really that matter dibandingkan dg learning process, experience bahkan potential exposure yg masih bisa digali diperusahaan yg sekarang ? change management is an expensive experience, kalau kita bisa survive melewati change management diusia muda saya yakin banyak learning experience yg akan sangat berguna di masa karir mendatang. lagipula diusia yg masih sangat produktif ini kalo beda2 dikit (gaji maksut saya), kita masih punya banyak waktu untuk mengejarnya. even beda banyak pun, kita masih punya banyak waktu untuk mengejar lho, kecuali usia kita sekarang sudah diatas 50 tahun dimana 1-2 juta bisa menjadi begitu sangat berarti. bandingkan kembali dengan learning process yg dijalani, experience dan potential exposure yg masih bisa digali diperusahaan skrg. seringnya bahkan orang-orang lama yg survive dari process change management itu yg nantinya akan sukses terus meniti karir. hal-hal inilah yg saya sebut price-less, tidak ternilai harganya.

my 2 cents, hope make sense.

Maya Arvini

4 Comments

  1. Wah mantaff mbak
    Seneng nih baca blog nya satu dari perempuan pilihan SWA.
    komentar saya siapa tahu teman mbak malah berhasil mengatasi masalah diperusahaan baru. ini akan membuat namanya terangkat, seperti Lee Iacocca yang membenahi perusahaan otomotig chysler.
    Atau Cacuk Sudaryanto di telkom dan bank mega.
    Begitu loh

    Reply
    • hi Wiro, hm i dont think untuk size large/big company, individual/ seseorang bgitu menentukan performance company tsb. saya sudah pernah di posisi 7 months ga ada CEO untuk kelas Microsoft Indonesia, and we are doing ok during those times. keberhasilan suatu company itu biasanya banyak ditentukan dari kombinasi banyak factor, antara role model, change management, raw material individual company tsb, visi company dsb. intinya memang, once we decide to move (in term of career ya), most people punya prioritas yg berbeda2. dalam hal ini, teman saya, put prioritas di ‘salary’ diatas area yg lain. ada kemungkinan individual/seseorang bgitu amat berpengaruh menjadi role model, biasanya antara org tsb menjadi puncak pimpinan dan berhasil melakukan turn around, atau dia yg punya (aka owner) :). hope it makes sense.

      Reply
  2. Insight yg menarik mbak, saya termasuk orang yang memandang “gaji lebih tinggi” lah yang utama. Namun setelah membaca sharing anda, saya sependapat untuk mereview kembali semua item “price less” menurut saya.

    Terimakasih atas pencerahannya.

    Reply
    • hi, what should i call you ya ? :)
      definitely no, higher salary itu cuma menarik ketika kamu masih diawal career saja, but always remember our career is still long way to go.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: