Career Workshop: Problem Solving, Conflict Management, Adaptability & Stress Management at work

Dikutip dari: http://agustincahyani.com/journals/career-workshop-problem-solving-conflict-management-adaptability-stress-management-at-work/

Hai! Sudah lama tak berjumpa!

Kali ini aku bakal cerita tentang workshop yang aku datengin. Tanggal 13 Juni 2015 kemarin, Aku dateng ke career workshop yang diadakan sama Koperasi Siswa Bangsa. Aku ketemu temen-temen aku sesama alumni Sampoerna Academy, kangen euy. Acaranya di Marbella Suites, Bandung. Di acara career workshop ini, aku mendapat kesempatan untuk mendengar wejangan-wejangan dari Ibu Anita Tamala dan Mbak Maya Arvini. Sekarang aku bakal cerita-cerita, apa yang aku dapat dari career workshopnya Mbak Maya yang judulnya Problem Solving, Conflict Management, Adaptability & Stress Management at Work.

11430088_389444977914717_8968039080010655459_n

“Mbak Maya memberikan pendapat setelah salah satu kelompok workshop memberikan presentasi”

 

Gak afdol kalau gak cerita soal ruangan yang dijadiin tempat workshop. Di tempat workshopnya, ada beberapa meja bundar (round Table) yang masing-masing meja bisa ditempati sekitar 8 orang. Lebih jelasnya, tempatnya ala-ala Indonesia Lawak Klub gitu. 😀

Games ear to ear

Sebelum mulai workshop, kami main Game dulu, namanya “ear to ear”. Gamenya main secara kelompok yang dibagi berdasarkan round Table masing-masing. Jadi cara mainnya adalah masing-masing ketua kelompok bakal diberi tahu suatu kalimat yang harus dihafalin. Kalimat ini nanti dibisikin ke satu orang dikelompok dan orang tersebut harus mbisikin ke teman yang sebelahnya. Orang yang dibisikin harus gantian mbisikin, gantian terus sampai semua anggota dibisiki pesannya. Orang terakhir yang dibisikin bertugas untuk mencatat pesan yang dia dapat. Kelompok yang pesannya akurat adalah kelompok yang menang. Dan hasilnya adalah… Jeng jeng… Gak ada kelompok yang menang. LOL 😀

11411715_10203919592539810_5454215880000021149_o

“My team for The game tapi gak ada Rio, Credit to Erri :D”

 

Apa pelajaran yang didapat dari Games tersebut?

Game “ear to ear” ini mengajarkan kepada kita tentang komunikasi. Komunikasi itu adalah proses dua arah, ada yang mau nyampein pesan dan ada yang mau nerima pesan. Seringkali ketika berkomunikasi, pesan yang disampaikan penyampai pesan dan pesan yang didapat penerima pesan, berbeda arti atau dengan kata lain salah tangkep. Memang ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu komunikasi, contohnya adalah bahasa, perilaku, budaya, bahkan sampe psikologis (misalnya waktu si lawan bicara lagi baper atau galau, nerima pesannya jadi kacau).

Kenapa sih kita harus belajar cara berkomunikasi yang baik?

Kalo komunikasi gak bagus, kita jadi susah ngungkap ide atau perasaan dan mungkin orang lain salah menangkap pesan yang pengen kita sampaikan. Jika sudah begini, tentu saja bisa mengarah ke konflik. Kalau udah ada konflik ini yang sedikit bahaya soalnya kitanya bisa stres, ya gak?

Waktu aku kuliah, aku sering ikut kepanitiaan yang pastinya kerjanya dalam tim. Sering miskomunikasi? Udah pasti!. Apalagi kan kerjanya bareng anak-anak ilkom yang mengutamakan logika. Kalo nyampein informasi harus jelas dan detail. Apalagi kalo nyampein kalimat yang ada kata gabung macem “dan”, “atau”,  “jika blablabla maka blablabla”, mereka nangkepnya pake logika matematika! Luar biasa!… Tapi gak segitunya kok, aku aja yang lebay. 😀

Kalau sudah kayak gitu ya mau gak mau harus ngikutin cara mereka komunikasi. Aku selalu berusaha buat nanggepin pesan atau telefon yang aku dapat secepat mungkin. Kadang agak suka sedih sih kalau nemu anak ilkom yang bales pesan WA lamanya nunggu bang Toyib pulang. Lama banget!. Kalau udah kayak gini, aku usaha buat telfon atau kirim pesan lewat media apapun yang bisa aku temui semacem facebook atau twitter. Aku salah satu anak mentee-nya Mbak Maya dan Mbak Maya selalu ngajarin buat gercep kalau nerima pesan, email, ataupun telefon. Akunya sendiri nyadar kadang kalau aku dapet pesan WA, Line, atau SMS biasa, suka lama balesnya. Tapi ini lagi usaha supaya balesnya gercep kok biar ketika kerja aku gak kena marah sama bos. Mbak Maya juga ngajarin supaya kalau nerima pesan ataupun email dibaca bener-bener biar gak salah tangkep dan komunikasi jadi lebih lancar.

Setelah dibilangin kalau faktor yang mempengaruhi komunikasi itu termasuk faktor “kebaperan” dan “kegalauan”, aku jadi lebih sadar soal mengendalikan sikap ketika berkomunikasi dengan seseorang entah lewat kirim pesan atau tatap muka langsung. Apalagi sekarang lagi masa-masanya sering kirim email sama dosen. Cara yang aku terapkan sih gini, pertama tarik nafas dan hembuskan, perhatikan siapa pengirimnya, lalu pikir kalimat yang cocok untuk membalas, dibaca berulang-ulang, baru kirim sambil doa yang nerima pesan gak salah tangkep atau tersinggung.

Conflict Management, Work adaptability, dan Stress Management

Setelah memberi banyak wejangan tentang komunikasi, Mbak Maya lanjut ngasih ilmu soal Conflict Management, Work adaptability, dan Stress Management. Ketika baca judul yang bakal diomongin ini, aku jadi semangat banget! Soalnya tiga hal itu sering banget aku temui di kehidupan kampus dan pasti akan sering aku temui kalau udah terjun di dunia kerja. Nah, sekarang aku bakal nyoba cerita apa yang aku dapat soal tiga hal tersebut.

“Life with a spirit of triathlon. Human is designed to have constant challenges in various Place. It’s like after we swim, we have to cycle and run, we need to manage physical and spiritual endurance, to over challenges as best as we can (at work, in life)” – Dian Noeh Abubakar, founder and CEO, Kennedy, Voice and Berliner; Founder, Voice of Startups; Founder, Impact Forum

 – Dikutip dari buku Career First halaman 39

Kenapa Conflict Management, Work Adaptability, dan Stress Management penting?

Karena conflict Management berhubungan sama nyaman-enggaknya kita kerja. Kalo kita kerjanya nyaman, produktivitas pasti meningkat. Kalo produktivitas meningkat performance kita pasti kelihatan bagus. Performance yang bagus merupakan landasan untuk meningkatkan jenjang karier.

Conflict Management

Yang pertama dibahas adalah tentang conflict Management. Kenapa bisa terjadi konflik? Tentu saja alasannya ada banyak. Tapi sebagian besar pasti ada hubungannya sama komunikasi. Mbak Maya sendiri pernah nulis thread di kaskus soal gimana cara ngatasin konflik, judulnya cara tepat mengatasi konflik di kantor. Mending baca itu, lebih bermanfaat daripada kepo status mantan. Ya gak? Ehehe…

Konflik sering terjadi ketika orang membuat asumsi tanpa bertanya, alias sok tahu. Aku tumbuh di keluarga Jawa, jadi cenderung malu buat nanya. Tapi semenjak kuliah di kota besar, aku jadi pede buat nanya. Menurutku “There are no stupid questions”.

Kadang, jika terlalu pede nanya atau minta bantuan, kita jadi berharap orang lain bisa menyelesaikan masalah yang kita punya. “No! Only you can solve your problem.”, begitulah kata Mbak Maya. Jadi walaupun kita bisa nanya atau minta bantuan, cuma kita yang bisa nyelesain masalah kita sendiri. Marah ke orang lain gara-gara gak bisa menyelesaikan masalah kita itu gak ada gunanya.

Konflik juga bisa terjadi karena kita nganggep orang lain gak ngerti apa-apa atau kata lainnya kita meremehkan orang lain. Kalau kerja dalam tim, kita harus belajar buat percaya sama orang lain. Kadang susah lho. Kadang temen yang dipercaya buat ngerjain sesuatu, bilangnya iya tapi gak dikerjain. Nah, kadang ada juga yang temen gak kita pasrahin apa-apa merasa gak dianggep dan akhirnya ngambek. Gini nih yang jadi penyebab konflik. Aku belajar buat gak ngeremehin orang dari sini. Kalo lagi masrahin suatu kerjaan ke temen, follow up aja. Kalo belum dikerjain, ya bilang “tolong segera dikerjain ya. Si B gak bisa ngerjain kalo kerjaan yang ini belum selesai”, kalo udah ya Alhamdulillah.

“Sukses itu proses”

Sukses itu bukan tujuan melainkan sebuah proses yang panjang. Yang dibutuhkan untuk sukses itu gak cuma pinter. Gimana mau sukses kalau gak bisa mengatasi konflik?

Work Adaptability

Waktu sesi ini, ada latihan gitu dari Mbak Maya, aku lupa nyatet “soal” latihannya tapi intinya kamu masih “anak baru” di perusahaan tempat kamu kerja. Baru kerja sekitar 4 bulan gitu. Nah, kamu dapat tugas buat bikin proposal dalam waktu 2 minggu dan butuh data dari temen sekantor. Kalo kamu berada di situasi ini, kamu bakal ngapain?

Latihan ini dikerjain per kelompok gitu. Dan beberapa kelompok ngasih presentasi apa solusi dari situasi tersebut. Jawabannya lucu-lucu lho. Ada yang pedekate-in temen sekantor pake acara traktiran starbucks biar si temen itu mau ngasih data. Ya gak pa pa sih, tapi harus siap-siap ngluarin duit.

DSC_0090

“Salah satu kelompok yang presentasi, kelompoknya Romo Adit sama Angga :D”

Setelah ngasih latihan, Mbak Maya ngasih penjelasan soal Work adaptability. Ketika kita masih newbie di kantor, usahakan percaya diri tapi jangan kepedean. Kepedean itu sampai di keadaan ngremehin orang dan merasa paling bener sendiri. Ketika memasuki dunia kerja, mungkin aja kita bakal menemukan banyak perbedaan, entah itu soal orang-orangnya atau cara kerja, kunci buat cepet adapt ya toleransi. Kita harus tetep berpikiran positif terhadap lingkungan kerja kita walaupun kadang ada beberapa hal yang gak “sreg” di hati. Dan yang paling penting, “Hormati orang-orang yang kamu temui”.

Waktu masih newbie, kita juga bakal melakukan banyak kesalahan soalnya masih baru dan mungkin kita bakal sering kena marah sama bos. It’s Okay! Yang penting kita gak larut dalam rasa kecewa dan kembali semangat buat kerja. Biar semangat kerjanya awet, kita juga harus punya rencana apa yang mau kita capai semasa kerja.

Selanjutnya kita dapet “latihan” lagi. Latihannya lanjutan dari latihan yang tadi. Intinya gini, kamu udah satu tahun kerja di tempatmu sekarang terus kamu disuruh bikin proposal lagi tapi sekarang kamu udah punya beberapa orang kantor yang gak suka sama kamu. Kamu harus minta data ke orang yang gak suka ke kamu ini buat bikin proposal yang diminta. Kalo kamu berada di situasi ini, kamu bakal ngapain?

Pusing kan? Mau minta data eh kitanya punya konflik sama yang mau dimintai tolong. Salah satu solusinya sih minta bantuan ke bos atau teman kantor lain buat diterusin ke pihak terkait. Dari latihan ini, dapat diliat kalau konflik dapat mengarah ke stres dan mempengaruhi performa kerja kita. Sesi selanjutnya Mbak Maya cerita gimana caranya ngatur stress.

Stress Management

Pertama ya harus tahu batas stress kita. Kalo stress-nya udah sampek ubun-ubun, cara paling gampang buat nenangin diri, tarik nafas yang dalam terus hembusin. Nah, kalo stres-nya lebih berat lagi, kita butuh hobby. Hobby jadi sarana buat melepas penat. Kan bosen kalo kerjaanya kerjaan kantor melulu. Biar rambut gak rontoh gara-gara bosen, kita bisa menjalankan hobby kita. Kalo aku hobby baca sama kadang nulis. Kadang aku sengaja irit banget (maklum, anak kos) biar bisa belanja banyak ketika aku lagi stress. Mbak Maya pernah nulis cara-cara mengatasi stress lho di kaskus. Nih, linknya. Jadi bisa dibaca dari situ atau dari buku Career first, buku karangannya Mbak Maya.

Kira-kira begitulah apa yang aku dapet dari workshopnya Mbak Maya. Kece kan?

Mbak Maya sedang menerima plakat dari Mbak Farrah

Mbak Maya sedang menerima plakat dari Mbak Farrah

Leave a Reply

%d bloggers like this: